Subscribe:

Pages

Minggu, 05 Mei 2013

Terbunuhnya Abu Jahal


musuh umat islam duniaOrang Yang Dijamin Masuk Neraka: Amr bin Hisyam atau Abu Jahal (bagian 4)

Abu Jahal terjebak dalam kebingungan yang sangat buruk dari apa yang dia lihat, dia berusaha membendung badai kekalahan yang menenggelamkan kaumnya. Maka dia berdiri sambil berteriak dalam keadaan geram dan sombong, “Demi Laata dan Uzza, kami tidak akan kembali hingga kami mengikat Muhammad beserta para sahabatnya dengan tali, dan janganlah seorang dari kalian merasa iba hanya dengan membunuh satu orang dari mereka. Berilah mereka pelajaran yang sebenarnya, hingga mereka tahu akibat perbuatan mereka menyelisihi agama kalin, dan membenci apa yang disembah oleh nenek moyang mereka.”
Lenyaplah teriakan itu ditelan lembah Badr, hanya saja penentangan dan kesengsaraannya menggambarkan kesombongan dan kecongkakan paling keji hingga nafas yang terakhir. Karena itu dia berperang membabi buta membabat apa yang di depannya. Kemudian dia terjun ke dalam kecamuk perang seraya berkata:
“Apa yang dilakukan oleh peperangan yang sengit ini terhadapku… Aku ibarat anak dua tahun, yang baru keluar giginya… Seperti inilah ibuku melahirkanku…”
Kaum musyrikin mengelilingi si jahat Abu Jahal seraya berkata, “Abul Hakam tidak bisa mengatasi keadaan.”
Mereka mengelilinginya hingga ia persis di tengah-tengah bagaikan pepohonan yang mengelilingi hutan, padahal alangkah cepatnya hutan itu lenyap seperti batang kurma yang lapuk, dan terkaparlah Abu Jahal pingsan nafasnya terengah-engah karena tusukan panah para pahlawan serta pedang-pedang mereka yang menebasnya. Kematian menunggu untuk meminum darahnya, dengan perantara tangan dua orang anak kecil dari Anshar, juga tangan orang-orang lemah yang merasakan seburuk-buruk penyiksaan dari Abu Jahal di Mekah.

Inilah Firaun-nya Ummat Ini

Tatkala peperangan telah reda, kaum musyrikin lari dengan kekalahan. Kaum muslimin bergembira dengan apa yang dibukakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka, berupa kemenangan ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mau memperlihatkan pada kami apa yang diperbuat Abu Jahal?”
Maka Ibnu Mas’ud bergegas pergi, lalu dia mendapati Abu Jahal telah dipukuli oleh dua putra Afraa –Mu’awwidz dan Mu’adz- hingga, ia menjadi dingin. Ibnu Mas’ud mengambil jenggotnya seraya berkata, “Engkau Abu Jahal?”
Dia berkata, “Giliran siapa hari ini?’
Ibnu Mas’ud menjawab, “Allah dan Rasul-Nya, bukankah Allah telah menghinakanmu wahai musuh Allah?”
Abu Jahal berkata, “Apakah ada yang lebih hebat dari lelaki yang dibunuh kaumnya?”
Maka Abdullah membunuhnya, kemudian dia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamseraya berkata, “Aku telah membunuhnya.”
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah yang tiada Ilah yang berhak disembah selain Dia.” Beliau pun mengulang-ulang kalimat ini tiga kali. Kemudian bersabda, “Allahu Akbar segala puji bagi Allah, Maha benar janji-Nya, menolong hamba-Nya dan memporak-porandakan pasukan, pergi dan perlihatkanlah padaku.”
Maka kami bergegas pergi, lantas kuperlihatkan kepada Beliau, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Inilah Fir’aunnya umat ini.”

Hikmah yang Amat Baik

Allah telah menghendaki agar tidak mematikan Abu Jahal seketika, Allah menjadikannya terkapar dalam keadaan sadar dan paham, agar memperlihatkan pada kedua matanya apa yang membuat dia sampai ke derajat yang hina dan rendah, serta dipecundangi oleh orang yang dahulu ditindas dan dipecundangi oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Dia beridri di atas dada Abu Jahal menginjaknya dengan kedua kakinya serta menjambak jenggotnya, sebagai bentuk penghinaan, menghajarnya dengan pukulan, hingga sekuat tenaganya. Dia bersungguh-sungguh dalam membangkitkan amarah Abu Jahal, seraya mengabarkan bahwa kemenangan telah ditetapkan untuk pihak Islam, dan kekalahan serta aib juga kehinaan telah ditulis untuk orang yang berpihak kepada kaum musyrikin.
Demikianlah posisi orang yang terbuai lagi dungu, diterbangkan oleh kebodohannya, kesombongan, dosa, dan kekufurannya. Maka dia menjadi tumbal pasukan kafir. Mati dalam keadaan ditawan mengenaskan, menyedihkan dan menyayat hati serta tersiksa. Dia dibunuh oleh kedengkian yang hina sebelum dibunuh oleh pedang-pedang perkasa dari para pahlawan madrasah (sekolah) Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu indahnya bait Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu tatkala menggambarkan kelalaian Abu Jahal, akhir hidupnya, kedengkian, kebejatan dan pesimisnya dalam syair:
“Allah telah melaknat kelompok yang menggiring mereka, seorang pembual dari golongan Bani Syij’i untuk memerangi Muhammad. Kesialan orang yang dilaknat, sejak dahulu dia membuat orang marah. Dengan keras dan jelas mencerca orang yang mendapat petunjuk. Dia menjuluki mereka pada kesesatan hingga menjadikannya runtuh. Dan sungguh, perkaranya menyesatkan tidak memberi petunjuk. Maka Rabb-ku menurunkan untuk Nabi pasukan-Nya dan menguatkannya dengan kemenangan di setiap peperangan.”

Musuh yang Dijelaskan dengan Nash Alquran

Abu Jahal –semoga dilaknat Allah- semenjak kedatangan Islam merupakan orang yang dilaknat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, malaikat-Nya, Rasu-Nya dan kaum muslimin. Dia dikenal sebagai orang yang paling benci dan musuh paling buruk bagi Nabi yang mulia, hal ini menjadi bukti kebenaran firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
Dan begitulah, telah kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari roang-orang yang berdosa.” (QS. Al-Furqan: 31)
Dengan demikian, orang yang berdosa lagi jelek ini berhak mendapat neraka sebagai balasan baginya dan orang yang semisalnya, karena dia orang yang tercela kepribadiannya, buruk gangguannya terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Referensi menyebutkan –sebagaimana kami jelaskan sebelumnya- bahwa ia orang berdosa pembunuh Sumayyah Ummu Ammar radhiyallahu ‘anhu, dialah pemilik tangan pengecut yang mematahkan anting-anting dari telinga Asma binti ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Tindakan ini menjadikan tercemar dari segi kejantanannya di tengah kaumnya dan dalam sejarah.
Di antara sifat menjijikan, yang membuat Abu Jahal layak dinobatkan menjadi musuh bebuyutan dari musuh-musuh yang ada, adalah dia orang kafir paling keras kepala, paling menentang, dengki dengan kedengkian yang mencapai batas durhaka, kepribadian yang jelek, hati yang membatu, kasar, dengki, memusuhi Islam dan kaum muslimin. Menodai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya dari Bani Abdi Manaf, semenjak Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih mereka sebagai pohon yang baik untuk tumbuhnya junjugan dan kekasih kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari asal mereka dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihnya untuk mengemban risalah-Nya. Dan diriwayatkan bahwa Abu Jahal –semoga dilaknat Allah- pernah berkata mengenai Nabi, “demi Allah, sesungguhnya aku tahu bahwa dia Nabi, akan tetapi sejak kapan kita tunduk mengikuti Abdi Manaf?”
Kelak kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah.” (QS. Al-Alaq: 18)
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ayat-ayat yang diturunkan berkenaan dengan Abu Jahal, sebanyak 84 ayat.”
Ayat-ayat ini merupakan peringatan dan ancaman bagi Abu Jahal berupa Neraka, ialah seburuk-buruk tempat kembali. Dan telah kita lalui sebagian ayat di lembaran yang telah lalu.
Berbagai referensi dan tafsir telah sepakat, buku kontemporer dan sejarah nabi, kitab Asbabun Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat), sejarah secara umum dan fiqih dan yang lainnya, semuanya menyebutkan Abu Jahal mendapat vonis masuk Neraka, berdasarkan Alquran al-Karim dan al-Hadis yang mulia.
Dan beragam riwayat yang terpercaya menyebutkan kabar-kabar tersebut, kami hanya penyambung lidah dalam salah satu riwayat yang memberitakan Abu Jahal akan disiksa di kerak Neraka yang paling bawah.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, lantas datanglah Abu Jahal seraya berkata, ‘Bukankah engkau telah kucegah dari melakukan hal ini?’ Kemudian Nabi menggertak, menghardik dan mengata-ngatai dengan keras serta mengancamnya.
Abu Jahal berkata, ‘Sesungguhnya engkau mengetahui, tidak ada yang lebih banyak pengikutnya dariku.’ –Dalam riwayat lain- ‘Akankah engkau menakut-nakutiku padahak akulah orang yang paling banyak pengikut di lembah ini?’”
Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah [Malaikat yang menyiksa orang-orang berdosa di dalam Neraka], sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Rabb).” (QS. Al-Alaq: 9-19)
Yang dimaksud dengan orang yang hendak melarang itu ialah Abu Jahal, yang dilarang itu ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, akan tetapi usaha ini tidak berhasil. Karena Abu Jahal melihat sesuatu yang menakutkannya. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, disampaikan oleh seseorang tentang berita itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau Abu Jahal berbuat demikian pasti dia akan dibinasakan oleh Malaikat.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sekiranya dia menyeru golongannya, niscaya Malaikat akan menyiksanya saat itu juga.”
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan, bahwa Abu Jahal –semoga dilaknat Allah- termasuk penghuni Neraka. Dari Asy-Sya’bi rahimahullah bahwasanya seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya aku melewati Badr, lantas aku melihat seseorang keluar, muncul dari bumi, kemudian dia dipukul oleh orang lain dengan cambuk/tongkat besi, yang dipukulkan ke kepalanya hingga dia menghilang ditelan bumi. Kemudian dia keluar lagi dan dipukul seperti semula dan hal ini berulang-ulang.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itulah Abu Jahal bin Hisyam diadzab hingga hari kiamat.”
Demikianlah Abu Jahal –semoga dilaknat Allah- berhak mendapat gelar paling buruk dalam Islam, yang diungkapkan Kaum muslimin, disebabkan banyak gangguan yang mereka terima, serta kejelekan hal yang dirasakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, buruknya perkataan, juga buruknya gangguan. Dan inilah hasil buah tangannya, ia menjadi penghuni Neraka.
Itulah Abu Jahal dan itulah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan apa yang dikehendakin-Nya pasti terjadi, tanpa penghalang. Alangkah tepatnya perkataan:
“Wahai orang yang berpaling dari kami, karena sikapmu yang berpaling. Jika kami menghendaki niscaya kami jadikan setiap yang ada padamu kembali kepada kami.”
Setelah itu, apakah sejarah kemanusiaan mengenal orang yang lebih buruk dari Abu Jahal?!
Tergolong orang-orang yang berbuat dosa di Mekah adalah Umayyah bin Khalaf bin Wahab al-Jumahi al-Qurasyi, menonjol sebagai orang yang melampaui batas dalam sejarah, yaitu orang-orang yang perbuatannya merupakan kesengsaraan bagi mereka di dunia dan akhirat.
Umayyah bergabung dengan Quraisy, agar ikut andil dalam menghadang jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Subhanahu wa Ta’ala yang mulia. Dia tidak mendapati suatu jalan kekerasan melainkan ditempuhnya.
Tatkala Islam mulai menyebar di Mekah, orang-orang yang memiliki akal cerdas menerima kebenaran yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sementara Umayyah bin Khalaf tidak masuk Islam. Hatinya tidak terbuka, oleh cahaya yang menerangi Mekah, dia terjangkiti penyakit sebagaimana jiwa yang lalai. Bahkan dia berusaha ikut andil dalam menyiksa para sahabat Nabi yang mulia radhiyallahu ‘anhu, yaitu orang-orang yang berat cobannya lagi besar ujiannya.
Umayyah dan orang-orang Quraisy mengadzab dan memfitnah agama yang baru (Islam), memenjarakan orang-orangnya, memukul mereka, membuat mereka kelaparan dan kehausan, serta menimpakan penyiksaan yang dilihatnya dapat memalingkan dari agama mereka (tauhid), memurtadkan dari keyakinan tersebut kepada pengkultusan patung dan berbuat kufur sebagaimana para penyambah patung.
Di antara gambaran penyiksaan tersebut, adalah yang diriwayatkan Ibnu Ishaq rahimahullah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dari jalan Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Saya berkata kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Apakah orang-orang musyrikin mengadzab para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai pada derajat yang diberi tolerir jika mereka meninggalkan agamanya?”
Dia berkata, “Ya, mereka menyiksa salah seorang dari sahabat, membuatnya lapar dan dahaga, sehingga dia tidak mampu duduk sempurna disebabkan keadaan buruk yang menimpanya. Dia memberikan kepada mereka apa yang diminta, berupa fitnah sebagai tebusan pembebas siksa.”
Umayyah bin Khalaf –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyengsarakannya- termasuk salah seorang di antara orang-orang kafir yang berdosa, yang memiliki berbagai macam bentuk penyiksaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhu. Di antara orang yang sabar yang mencapai puncak keyakinan dalam tangga teratas Islam, tuan kita Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu petugas adzan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bilal radhiyallahu ‘anhu menampakkan pembelaan –terhadap agama dan keimanannya kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala- yang menjadikan Umayyah dan orang-orang yang bersamanya berdiri tercengang, seraya saling melaknat di antara sesama mereka. Umayyah ditimpa keputusasaan. Dia tidak mampu mengeluarkan dari mulut Bilal satu huruf pun yang sebanding dengan tindakan dan kekafirannya, atau Bilal melemah sedikit, meskipun hanya dengan isyarat, maka apa yang diperbuatnya? Apakah dia berhenti sebatas ini? Dan kedengkian serta kejahatannya. Mereka sangat bersemangat mencari sebab yang dapat membenarkan (menjustifikasi) mereka, untuk bertindak melampaui batas dan permusuhannya. Sebab-sebab kekerasan itu di antaranya, loyalitas mereka terhadap agama nenek moyang dengan cara kesetiaan yang buta, ketakutan mereka akan martabat mereka dan martabat suku Quraisy, yang percaya terhadap patung. Sebab ketiga –barangkali yang terpenting- yaitu kedengkian yang mengakar terhadap Bani Hasyim, khususnya terhadap Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhususkannya dengan kenabian tanpa menyertakan pemimpin siapa pun dari Quraisy yang terkenal di Ummul Qura dan sekitarnya.
Dengan hati yang bersih, jiwa yang bersinar dan tekad yang benar, Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhumasuk Islam, untuk Sang Pencipta, dia beriman dengan seruan agama yang baru itu, dan pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia masuk Islam serta menyerahkan segala perkaranya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tak lama kemudian, tuannya Umayyah bin Khalaf mengetahui budaknya yang bernama Bilal, telah beriman keapda Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, para setan berkerumun di sekitar Umayyah, mengelus di atas dadanya, membisikkan kecongkakan dan angan. Umayyah bertanya-tanya, “Akankah masuk Islam seorang budak di antara budak-budak yang ada, tanpa sepengetahuan tuannya, sedangkan tuannya Bilal dan Umayyah?”
Umayyah melihat dengan kebodohan dan sikap terpedayanya, bahwa keislaman Bilal bin Rabahradhiyallahu ‘anhu sebagai budaknya mencoreng kemuliaannya dengan aib dan kehinaan di depan kelompok kaum Quraisy. Karena itu, jiwanya yang jelek membisikkan bahwa ia akan memaksa budaknya kembali dan meninggalkan Islam, apalagi ia mendengar Bilal telah meludahi patung-patung tersebut dan mencelanya dengan berkata, “Telah sengsara dan merugi orang-orang yang menyembah kalian.”
Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M

Tokoh Islam: Abu Muslim al-Khaulani, Abdullah bin Tsuwab


Tokoh Islam: Abu Muslim al-Khaulani, Abdullah bin Tsuwab

Tokoh Islam Abu Muslim al-Khaulani, Abdullah bin Tsuwab                           Tersebar berita di seluruh penjuru Jazirah Arab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit sepulang beliau dari haji Wada. Setan pun memprovokasi Aswad al-Ansi agar kembali kepada kekafiran setelah keimanannya. Dan agar dia berkata tentang Allah dengan dusta. Dia mengaku kepada kaumnya sebagai nabi yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dia adalah manusia yang kuat jasadnya, besar ambisinya, keras jiwanya dan akrab dengan kejahatannya. Dia juga ahli dalam hal ikhwal perdukunan jahiliyah, gemar menggunakan sihir untuk mencelakakan orang. Di samping dia juga fasih lisannya, bagus argumennya, cerdas otaknya, pandai menyesatkan orang dengan kebathilannya. Dia mencari pendukung dengan cara membagi-bagikan hadiah dan pemberian. Ketika tampil di muka umum dia selalu mengenakan topeng hitam agar terkesan angker dan terasa kuat kehebatannya.
Dengan cepat dakwah Aswad al-Ansi menyebar di penjuru Yaman bagaikan api yang membakar ilalang. Dia dibantu oleh kabilah Bani Madhaj, kelompok terbesar di Yaman dari segi jumlah dan kekuasaannya. Masih pula didukung oleh kemampuan untuk merekayasa cerita dusta, kepalsuan serta memperalat para pengikutnya yang pandai untuk menguatkan siasatnya.
Dia mengaku bahwa malaikat turun dari langit untuk membawakan wahyu dan memberitahukan hal-hal ghaib kepadanya, lalu dia membuat berbagai rekayasa agar orang-orang percaya dengan pengakuannya.
Dia menaruh mata-mata di berbagai tempat untuk mendengarkan masalah-masalah yang dikeluhkan masyarakat, menguak rahasia-rahasia mereka, serta memancing cita-cita dan harapan yang tersimpan di benak mereka. Pada saat yang sama dia mengusahakan agar orang-orang minta tolong kepadanya.
Ketika orang-orang datang, dia melayani mereka dengan baik, memenuhi segala kebutuhan mereka dan mengatasi segala kesulitan mereka. Dia tunjukkan seolah-olah dia mengetahui segala rahasia yang tersimpan dalam hati mereka. Dipamerkannya hal-hal ajaib dan menakjubkan sehingga mampu menyihir akal dan membingungkan pikiran mereka.
Dalam waktu singkat namanya menjadi besar, kehebatannya kian tersohor, pengikutnya makin banyak. Shan’a kini berada di bawah kendalinya, dari sini terus menyebar ke tempat lain sampai meliputi seluruh Yaman, antara Hadramaut, Tha’if, Bahrain serta Aden.
Ketika telah merasa besar kekuatannya, dan banyak pula negeri maupun kekuasaannya, dia beraksi memburu orang-orang yang menentangnya, orang-orang yang dikaruniai iman kepada Allah secara tulus dan beragama yang lurus.
Terhadap orang-orang tersebut Aswad al-Ansi berlaku bengis, bahkan tak segan-segan melakukan penyiksaan secara sadis. Di antara para penentang tersebut, terdapat seorang tokoh bernama Abdullah bin Tsuwab yang dikenal dengan julukan Abu Muslim al-Khaulani.
Abu Muslim al-Khaulani adalah seorang yang kokoh imannya, pantang kompromi dengan kebathilan dan senantiasa menyerukan kebenaran. Dia mengikhlaskan hidupnya untuk Allah Subhanahu wa Ta’alasemata. Dia menjauhi kesenangan dunia dan perhiasannya, bernadzar bahwa hidupnya akan digunakan untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala serta mendakwahkan agamanya. Dijualnya murah-murah kenikmatan sementara di dunia untuk ditukar dengan kenikmatan abadi. Tak heran bila orang-orang menyambutnya dengan baik, memandangnya sebagai orang yang suci jiwanya dan mustajab doanya di sisi Rabb-nya.
Aswad al-Ansi sudah gatal untuk menangkap Abu Muslim lalu menghukumnya sekeras mungkin. Agar orang lain yang akan menentangnya gentar dan dapat ditundukkan.
Maka, dia perintahkan prajuritnya mengumpulkan kayu bakar di lapangan Shan’a, lalu disulut dengan api. Orang-orang dipanggil untuk menyaksikan bagaimana seorang ahli fikih di Yaman dan ahli ibadahnya Abu Muslim al-Khaulani hendak “bertaubat” kepada Aswad dan mengimani kenabiannya.
Sampailah waktu yang telah direncanakan, Aswad al-Ansi memasuki lapangan yang telah dipadati manusia. Dia berjalan dengan kawalan ketat, kemudian duduk di atas kursi kebesaran di depan api yang menyala-nyala.
Sejurus kemudian, Abu Muslim al-Khaulani diseret ke tengah arena. Pendusta yang kejam itu memandang Abu Muslim dengan congkak, lau berpaling ke arah api yang berkobar dan menjilat-jilat seraya bertanya,
Aswad: “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah?”
Abu Muslim: “Benar, Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Dialah sayyidul mursalin dan penutup para Nabi.”
Dahi Aswad al-Ansi menggerutu. Kedua alisnya bertaut pertanda marah.
Aswad : “Apakah Engkau bersaksi bahwa aku adalah rasul Allah?”
Abu Muslim: “Telingaku tersumbat, tak bisa mendengar kata-katamu.”
Aswad : “Kalau begitu, aku akan mencampakkanmu ke dalam api itu.”
Abu Muslim: “Bila engkau membakar aku dengan api dari kayu, engkau akan dibalas dengan api yang bahan bakarnya manusia dan batu-batu, di bawah penjagaan malaikat-malaikat yang perkasa, yang tidak menentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa mematuhi perintah yang diberikan kepada mereka.
Aswad : “Aku tidak tergesa-gesa, aku beri engkau kesempatan untuk menggunakan otakmu. Apakah engkau tetap mengakui bahwa Muhammad adalah rasul Allah?”
Abu Muslim: “Benar. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya. Allah mengutusnya dengan membawa agama dan petunjuk yang benar. Allah menutup seluruh risalah-Nya dengan risalah yang dibawa oleh Muhammad.”
Aswad  al-Ansi meninggikan nada suaranya.
Aswad : “Kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?”
Abu Muslim: “Sudah aku katakan kepadamu, bahwa telingaku tersumbat sehingga tak bisa mendengar kata-katamu itu.”
Semakin naik pitamlah Aswad al-Ansi mendengar ketegasan jawaban, ketenangan serta ketegarannya. Dia hendak memerintahkan agar Abu Muslim al-Khaulani dicampakkan ke dalam api, tapi tangan kanannya berusaha mencegahnya seraya berbisik di telinganya: “Anda tahu bahwa orang ini berjiwa suci, doanya mustajab, sementara Allah tak pernah membiarkan hamba-Nya yang beriman di saat-saat kritis. Bila Anda lemparkan dia ke dalam api lalu ternyata Allah menyelamatkannya, maka semua yang kau bina dengan susah payah ini akan hancur dalam sekejap, karena orang-orang akan mengingkari kenabianmu saat itu juga. Bila engkau membakarnya dan dia mati, orang-orang akan mengaguminya, bahkan menyanjungnya sebagai syuhada. Oleh karena itu, lebih baik Anda melepaskan dia, asingkan saja dia dari negeri ini. Hindarilah dia, engkau akan menjadi lebih tenang dan bisa santai.”
Nabi palsu itu menerima saran tersebut. Dia membekaskan Abu Muslim lalu mengusirnya keluar dari Yaman.
Berangkatlah Abu Muslim al-Khaulani menuju Madinah dan sangat berharap dapat menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sudah beriman sebelum bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rindu untuk mendampingi beliau sebagai sahabat.
Tapi sayang, belum lagi memasuki Madinah, beliau mendengar kabar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat dan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu terpilih sebagai khalifah kaum muslimin. Tak terkira betapa kecewa beliau mendengarnya.
Setibanya di Madinah, beliau langsung menuju Masjid Nabawi. Beliau menambatkan ontanya di samping masjid, kemudian memasuki Masjid Nabawi setelah mengucapkan shalawat dan salam bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau mendekati salah satu tiang masjid lalu shalat di sana. Usai shalat, Umar bin Khathabradhiyallahu ‘anhu menghampirinya seraya bertanya,
Umar: “Dari manakah asal Anda?”
Abu Muslim: “Saya dari Yaman.”
Umar: “Bagaimana kabar saudara kita yang hendak dibakar hidup-hidup oleh musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu Alah menyelamatkannya itu?”
Abu Muslim: “Alhamdulillah dia dalam keadaan baik.”
Umar: “Demi Allah, bukankah Anda orangnya?”
Abu Muslim: “Benar,”
Maka Umar bin Khathab mencium antara kedua mata Abu Muslim.
Umar: “Tidakkah Anda mendengar berita tentang apa yang dilakukan Allah Subhanahu wa Ta’alakepada musuh-Nya dan musuh Anda itu?”
Abu Muslim: “Tidak. Sejak meninggalkan Yaman, saya tak lagi mendengar beritanya.”
Umar: “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membunuh al-Ansi melalui tangan orang-orang beriman yang ada di sana dan mengakhiri kekuasaannya serta mengembalikan para pengikutnya ke jalan Allah.”
Abu Muslim: “Segala puji bagi Allah yang belum mematikan saya sampai saya mendengar tewasnya penjahat itu dan kembalinya penduduk Yaman ke pangkuan Islam.”
Umar: “Segala puji bagi Allah yang memberi kesempatan kepada saya untuk bertemu dengan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hendak diperlakukan seperti khalilullah (kesayangan Allah) Ibrahim ‘alaihissalam.”
Setelah itu Umar bin Khathab mengajak Abu Muslim menghadap khalifah Abu Bakar ash-Shiddiqradhiyallahu ‘anhu. Kemudian beliau berbai’at kepada khalifah muslimin itu.
Setibanya Abu Muslim, Abu Bakar mempersilakan beliau duduk di antara dirinya dan Umar radhiyallahu ‘anhu. Setelah kedua sahabat utama tersebut berbincang-bincang dan mendengarkan kisah Abu Muslim mengenai Aswad al-Ansi.
Cukup lama Abu Muslim al-Khaulani tinggal di Madinah. Dengan tekun dia datang ke Masjid Nabawi, shalat di Raudhah suci dan belajar kepada para tokoh sahabat seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, Abu Dzar al-Ghifari, Ubaidah bin Shamit, Muadz bin Jabal, dan Auf bin Malik al-Asyja. Sesudah itu beliau menuju ke Syam dan menetap di sana. Beliau memilih tinggal di perbatasan agar bisa bergabung dengan kaum muslimin memerangi Romawi dan meraih pahala mujahid fi sabilillah.
Tatkala khilafah dipegang oleh Amirul Mukminin Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abu Muslim sering menghadiri majelisnya. Banyak peristiwa masyhur yang menunjukkan keagungan kedua orang ini beserta derajat serta adab yang diterapkan oleh mereka.
Pernah Abu Muslim mendatangi Mu’awiyah yang sedang duduk di tengah pertemuan. Beliau dikelilingi oleh para pejabat, panglima perang, dan tokoh-tokoh kaum. Beliau melihat betapa orang-orang menghormati dan menyanjung Mu’awiyah secara berlebihan. Beliau khawatir hal itu akan merusak keimanan Amirul Mukminin, sehingga didahuluinya memberi salam: “Assalamu’alaika ya ajiral (pelayan) mukminin.” Spontan orang-orang menegurnya, “Katakanlah, ‘Amirul Mukminin (pemimpin) mukminin.”
Beliau tak mempedulikan tanggapan mereka dan bahkan mengulangi salamnya, “Assalamu’alaika ya ajiral mukminin.” Orang-orang berkata, “Amirul Mukminin, wahai Abu Muslim.” Beliau tetap pada pendiriannya berkata, “Assalamu’alaika ya ajiral mukminin.”
Tatkala orang-orang mulai mengecamnya, beliau berkata, “Anda adalah orang yang diangkat AllahSubhanahu wa Ta’ala sebagai pejabat bagi umat, seumpama orang yang disewa untuk mengurus ternak-ternaknya. Dia akan diberi upah besar, jika mengurus peternakan itu dengan baik dan rajin merawat sehingga yang kecil menjadi besar, yang kurus menjadi gemuk dan yang sakit menjadi sehat. Tetapi jika teledor, tidak mengurusnya dengan baik, sehingga ternak-ternak itu kurus kering lalu mati, susut hasil bulu dan susunya, maka dia tak akan diberi upah, bahkan akan menerima murka dan hukuman. Oleh karena itu Anda, wahai Mu’awiyah, boleh memilih mana yang baik bagi Anda dan lupa mana yang Anda kehendaki.”
Khalifah duduk mendengarkan kemudian mengangkat kepala seraya berkata, “Semoga Allah membalas Anda dengan yang lebih baik atas perhatian Anda kepada kami dan juga rakyat. Kami mengenal Anda yang selalu memberikan nasihat karena Allah dan rasul-Nya dan bagi kebaikan kaum muslimin.”
Kasus lain, ketika Abu Muslim al-Khaulani menghadiri shalat Jumat di Damaskus. Amirul Mukminin Mu’awiyah menyampaikan khutbah berisi himbauan agar masyarakat membersihkan dan mengeruk sungai Barada agar airnya bersih.
Ketika beliau tengah berkhutbah, dari tengah-tengah jamaah Abu Muslim angkat suara: “Wahai Mu’awiyah sadarkah Anda bahwa hari ini atau esok Anda akan mati dan berumah di lahat? Bila Anda membawa bekal, maka itulah yang diperintahkan bagi Anda. Bila Anda datang dengan tangan kosong maka akan Anda dapati tempat Anda berupa lahat yang datar saja. Saya mengharapkan wahai Mu’awiyah jangan sampai Anda menyangka bahwa kekuasaan adalah sekadar seperti perintah menggali sungai dan mengumpulkan harta. Khiafah menuntut adanya amalan yang benar dan tindakan adil yang menyeru manusia kepada hal-hal yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Wahai Mu’awiyah, tak perlu Anda mengkhawatirkan keruhnya sungai bila sumbernya bersih. Sesungguhnya Anda adalah sumber kami, maka berusahalah agar diri Anda bersih. Wahai Mu’awiyah, bila Anda menzhalimi seseorang, maka kezhaliman itu bisa dihapus dengan keadilan Anda. Waspadalah terhadap kezhaliman, sebab ia adalah kegelapan di akhirat.”
Ketika Abu Muslim menyelesaikan kata-katanya, Mu’awiyah turun dari mimbar, menghampirinya lalu berkata, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati Anda dan semoga Allah membalas kebaikan Anda.”
Contoh yang lain, ketika Mu’awiyah kembali tampil di mimbar untuk berkhutbah, beliau menunda pembagian harta untuk masyarakat dua bulan kedepan. Abu Muslim menegurnya: “Wahai Mu’awiyah harta ini bukanlah harta Anda ataupun harta ayah-ibu Anda. Mengapa Anda menahannya begitu lama dari orang-orang?”
Tanda kemarahan nampak tersirat pada wajah Mu’awiyah. Orang-orang menunggu apa yang hendak dilakukannya. Dia memberi isyarat agar orang-orang tetap di tempat masing-masing, sementara dia sendiri turun dari mimbar, berwudhu kemudian menyiram tubuhnya lalu naik lagi ke mimbar.
Kemudian beliau mengucapkan tahmid dan tasbih dan berkata, “Tadi Abu Muslim mengingatkan bahwa harta ini bukanlah hartaku atau harta ayah bundaku. Sungguh tak ada yang salah pada kata-kata itu. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Marah itu berasal dari setan dan setan berasal dari api, maka apabila salah satu dari kalian marah, hendaklah segera mandi.” Wahai saudara-saudara pergilah kalian mengambil hak kalian dengan berkah Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Semoga Allah membalas kebaikan Abu Muslim al-Khaulani yang mampu menjadi teladan yang baik dalam menyampaikan kebenaran. Semoga Allah melimpahkan rahmat serta ridha-Nya kepada Amirul Mukminin Mu’awiyah bin Abi Sufyan karena dia memberi teladan kepada para penguasa tentang bagaimana menerima kebenaran dan tunduk kepada kalimat yang benar.
Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009

Kisah Orang Durhaka dalam Islam – Utbah bin Rabi’ah


kisah orang durhaka

 bin Rabi’ah
-  Duta orang-orang kafir yang berbuat jahat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar membujuk Beliau meninggalkan dakwah yang benar.
-  Musuh bebuyutan Islam, terbunuh dalam perang Badr.
-  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknatnya dengan bersabda, “Ya Allah laknatilah ‘Utbah bin Rabi’ah.”
-  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajaknya berdialog setelah dia dan para pembesar Quraisy dilempar ke sumur sesudah terbunuh, “Wahai Utbah bin Rabi’ah bukankah kalian telah mendapati apa yang dijanjikan oleh Rabb kalian benar adanya?”
Dia di antara orang-orang Jahiliyah yang pura-pura berakal, tempat bertumpunya syirik, penopang para penyembah patung, salah seorang pengibar bendera permusuhan terhadap dakwah Nabi yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi kebodohannya, tidak sampai ke derajat rendah, perbuatan dosa dan kedengkian Abu Jahal bin Hisyam. Dia tidak sampai ke derajat terpuruk, seperti si jahat Uqbah bin Abi Mu’ith dengan kepribadian yang sangat rendah, juga sifat dan perbuatan yang sangat tercela. Bahkan dia di tengah kaumnya –Quraisy- sebagai orang yang mulia, cerdik dalam menentang dakwah yang haq, petunjuk, dan cahaya.
Dia menampakkan perdamaian dan persetujuan, suatu hal yang menjadikannya sebagai duta Quraisy yang vokal dalam forum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk memalingkannya dari dakwah, mengajak orang lain ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan memberi motivasi membanggakan Quraisy di masa Jahiliyah, yang berkisar antara bisikan setan dan desah nafas orang-orang yang sesat.
Siapakah orang yang terfitnah dengan bualannya sendiri, yang merasa mulia dengan kesombongannya, dan lagak menampakkan intelektualitasnya?
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menyifatinya sebagai Syaikhul Jahiliyyah.
Al-Hafidz Ibnu Asakir dan yang lainnya menyebut nasab dia, sebagai berikut: Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab al-Qurasyi al-Absyami.
Utbah memiliki anak bernama Abu Hudzaifah bin Utbah yang merupakan salah seorang pasukan penunggang kuda Rasul yang suci, bergerak maju memeluk Islam di awal kemunculannya. Dia tidak takut kepada ayahnya, Syaikhul Jahiliyyah, orang yang mulia dan memiliki kedudukan di kalangan Quraisy. Memeluk Islam bukan karena dorongan dunia, yang mendorongnya hanyalah keimanan, kuatnya kemauan, sucinya aqidah, dan bersihnya hati.
Dia masuk Islam sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, masuk ke Darul Arqam menyembunyikan seruannya, mengkhawatirkan orang yang bersamanya, para pengikut petunjuk, untuk berjaga-jaga dari gangguan para penyembah syirik yang dipimpin Utbah bin Rabi’ah, ayah Abu Hudzaifah dan kelompok kecil keluarganya dari Bani Abdi Syams, termasuk orang yang tertutup fikirannya dengan kegelapan syirik dan kezhaliman, mereka berbuat congkak dan sombong, menentang kebenaran dan mencegah semua jalan untuknya, hingga mereka membendung lantas Allah menghinakan mereka. Menjadikan kalimat mereka rendah dan kalimat-Nya yang tinggi.
Adapun anak perempuannya adlaah Hindun binti Utbah, salah seorang Shahabiyyah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, dan salah seorang wanita yang terkenal dalam dunia sejarah dan sejarah dunia.
Bekas Peninggalan Jahiliyah
Utbah bin Rabi’ah dikenal di kalangan Quraisy dengan kemuliaan turun-menurun, yang menjadikannya memperoleh kedudukan sosial yang tinggi di antara orang Quraisy. Di antaranya dia mengesampingkan hal-hal kecil, dan kesabarannya di masa muda yang umumnya terburu nafsu.
Diriwayatkan, dia melewati sekelompok pemuda dari Bani Mughirah. Mereka berkata, “Apa yang menjadikannya sebagai tuan? Padahal dia tidak memiliki harta, tidak pula ini atau itu?” Mereka mencelanya, sedangkan dia mendengarnya. Kemudian dia bergegas pergi, tidak menyahuti komentar itu, bahkan dia mengumpulkan baju dan pakaian, lantas dia memberikannya kepada mereka, dengan begitu bertambahlah kedudukan di hadapan kaum Quraisy.
Dinukil perkataan, tentang kepimpinan Utbah yang menunjukkan kedudukan dan kepemimpinannya:
Abu az-Zinad berkata, “Kami tidak mengetahui seorang pun yang memimpin di masa Jahiliyah tanpa memakai harta selain Utbah bin Rabi’ah.”
Abdurrahman bin Abdillah az-Zuhri berkata, “Tidak ada orang miskin dari Quraisy yang memimpin, selain Utbah bin Rabi’ah dan Abu Thalib bin Abdil Muththalib. Keduanya adalah pemimpin yang tidak memiliki harta.”
Karena itu kaum Quraisy mengajaknya ikut serta dalam perkara-perkara besar, misalnaya dalam pembangunan Ka’bah yang mulia. Putusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara kaum Quraisy untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya yang semula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar didatangkan kain, lalu Hajr Aswad diletakkan di tengahnya, kemudian Beliau bersabda, “Setiap kabilah hendaknya mengambil bagian dari ujung baju, kemudian angkatlah bersama-sama.” Maka mereka melakukannya, dikelompok Abdu Manaf terdapat Utbah bin Rabi’ah. Akhirnya kekompakkan menggantikan perpecahan.
Utbah mendapat bagian kehormatan mengangkat Hajar Aswad, hal itu terjadi beberapa tahun sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus menjadi Rasul.
Di antara kemuliaan turun menurun pada masa jahiliyah yang tercatat dalam sejarah Utbah, adalah mendamaikan manusia yang bertikai tatkala terjadi Harbul Fijar, Utbah menunggangi untanya seraya berteriak, “Wahi suku Mudhar, atas dasar apa kalian saling membunuh? Wahai suku Quraisy marilah kita sambung tali persaudaraan dan perdamaian.”
Mereka menjawab, “Bagaimana kami menghentikan?”
Dia berkata, “Hitunglah yang terbunuh dari kalian, kami akan menghadiahkan kepada kalian para tawanan kami dan kami akan memaafkan kalian atas orang-orang yang terbunuh.”
Mereka berkata, “Siapakah yang menjadi jaminan untuk kami?!”
Dia menjawab, “Saya.”
Lantas mereka rela dan terjadilah perdamaian.
Tatkala orang-orang Hawazin melihat para tawanan Quraisy sudah di tangan mereka, mereka mau memaafkan. Kemudian mereka membebaskan dan menghapus dendanya. Dengan Demikian usailah perang (Harbul Fijar). Karena inilah dikatakan, “Utbah menjadi pemimpin tanpa harta, bahkan keadaannya faqir.”
Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M

Diantara tanda-tanda kiamat besar


Terbitnya matahari dari arah barat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kiamat tidak akan datang sebelum matahari terbit dari arah Barat. Apabila orang-orang melihat hal ini, maka semua orang yang ada di atasnya beriman. Hal ini pada saat tidak berguna lagi iman seseorang yang memang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu.”
Kabut
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Maka Tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas yang meliputi manusia. Inilah adzab yang pedih.” (QS. Ad-Dukhan: 10-11)
Yang dimaksud dengan dukhan dalam ayat ini ialah kabut tebal yang memenuhi antara langit dan bumi yang muncul sebelum kiamat datang yang mengambil nafas orang-orang kafir sehingga mereka hampir tercekik sedangkan bagi orang-orang mukmin seperti mengalami pilek. Kabut ini berlangsung di muka bumi selama empat puluh hari.
Munculnya Dabbah (binatang) yang dapat berbicara dengan manusia
Di antara tanda-tanda kiamat besar ialah keluarnya Dabbah (binatang) dari dalam bumi yang dapat berbicara dengan manusia dengan bahasa yang fasih yang dapat dipahami oleh semua yang mendengarnya. Dabbah itu mengabarkan kepada mereka bahwa manusia dahulu tidak beriman kepada ayat-ayat Allah. Dabbah ini muncul di akhir zaman pada saat manusia telah mengalami kebobrokan, mereka meninggalkan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengganti agama yang benar. Lantas Dabbah berbicara kepada mereka, “Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat kami.” Dabbah ini keluar dengan membawa tongkat Nabi Musa ‘alaihissalamdan cincin Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Hidung orang-orang kafir diberi cap dengan cincin. Dan wajah orang mukmin menjadi terang berkat tongkat tersebut sehingga dapat dikenali antara orang mukmin dan orang kafir.
Munculnya al-Masih Dajjal
Dia dinamai al-A’war ad-Dajjal karena dia buta sebelah matanya yang kanan. Fitnahnya merupakan fitnah terbesar yang menimpa orang-orang di akhir zaman. Al-A’war ad-Dajjal tidak hanya mengaku-aku sebagai nabi, bahkan dia juga mengaku-aku sebagai tuhan. Muncul beberapa hal-hal yang luar biasa melalui kedua tangannya sebagai bentuk istidraj dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya dan sebagai ujian bagi para manusia. Dia berkata kepada langit, “Hujanlah!” Maka langit pun menurunkan hujan. Dia berkata kepada bumi, “Keluarkanlah tanamanmu dan kekayaan yang kau pendam!” Maka bumi pun mengeluarkannya. Dia dapat membunuh manusia lalu menghidupkannya kembali. Dia mengelilingi seluruh permukaan bumi. Semua daerah yang dia masuki pasti dia berbuat kerusakan di dalamnya kecuali Mekah dan Madinah. Sebab, jika dia hendak memasukinya, dia menjumpai malaikat yang menjaganya, makanya dia kembali dan gagal. Dajjal kali pertama muncul di sebuah kota yang bernama Asfihan. Pada awalnya dia diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi. Kemudian dia diikuti oleh orang-orang rendahan, orang-orang bodoh, dan rakyat jelata. Dia berada di muka bumi selama empat puluh hari. Ada sehari yang bagaikan setahun. Ada yang sehari bagaikan sebulan. Dan ada sehari yang bagaikan sepekan. Selebihnya, hari-hari sebagaimana hari-hari biasa.
Semua keterangan ini terdapat di dalam hadis-hadis shahih. Kami akan menuturkan sebagian di antaranya dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Tidak ada seorang nabi pun melainkan memberi peringatan kepada umatnya mengenai orang buta sebelah yang pendusta. Ingalah bahwa dia buta sebelah. Sesungguhnya Rabb kalian tidak buta sebelah. Di antara kedua matanya tertulis ‘kafir’ yang dapat dibaca oleh semua muslim.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Sesungguhnya Dajjal keluar dengan membawa air dan api. Maka, air yang dilihat oleh orang-orang sesungguhnya adalah api yang membakar. Sedangkan api yang dilihat oleh orang-orang, sesungguhnya adalah air yang dingin dan segar. Barangsiapa di antara kalian yang menjumpai hal ini, maka hendaklah dia menjatuhkan diri pada sesuatu yang dilihatnya api, karena sesungguhnya hal itu adalah air segar yang baik.”
An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuturkan tentang Dajjal pada suatu pagi. Beliau merendahkan tetapi juga meninggikan suaranya, sampai-sampai kami menduga bahwa Dajjal berada di satu sisi pohon kurma.” (Maksudnya, beliau merendahkan suaranya dengan menyebutkan bahwa dia buta sebelah dan di antara kedua matanya tertulis ‘kafir’. Beliau juga memandang besar fitnah Dajjal karena mencakup hal-hal yang luar biasa. Artinya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersungguh-sungguh mengganggap dekat munculnya Dajjal. Beliau menggunakan redaksi yang bermacam-macam, baik yang merendahkan maupun yang meninggikan –redaksi sehingga kami menduga- untuk bersungguh-sungguh dalam menganggap dekat –bahwa Dajjal berada di satu sisi pohon kurma- di (Madinah).
Beliau bersabda, “Selain Dajjal yang lebih saya khawatirkan atas diri kalian. Apabila dia muncul sedangkan saya masih ada di antara kalian, maka sayalah yang akan mematahkan hujjahnya untuk membela kalian. Apabila dia muncul dan saya sudah tidak ada di antara kalian, maka tiap-tiap orang membela dirinya sendiri. Allah yang menggantikan diriku atas setiap orang muslim. Dajjal adalah pemuda yang berambut keriting, matanya sayu, seakan-akan saya menyamakannya dengan Abdul Uzza bin Qathan (seseorang yang binasa pada masa jahiliyah). Barangsiapa bertemu dengannya, maka bacakan kepadanya bagian pembukaan surat Al-Kahfi. Dia muncul di daerah antara Syiria dan Irak. Dia membuat banyak kerusakan di kanan dan di kiri. Wahai hamba-hamba Allah! Tetaplah (pada keimanan dan janganlah melenceng darinya).” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah! Berapa lama dia berada di muka bumi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Empat puluh hari. Yang sehari bagaikan setahun. Sehari lagi bagaikan sebulan. Dan sehari lagi bagaikan sepekan. Sedangkan hari-hari lainnya seperti hari-hari biasa.
Kami kembali bertanya, “Wahai Rasulullah! Pada sehari yang bagaikan setahun, cukupkah bagi kami melakukan shalat untuk sehari dalam hari tersebut?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak. Perkirakanlah kadar waktunya.”
Kami bertanya lagi, “Wahai Rasulullah! Seperti apakah kecepatan Dajjal di bumi?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bagaikan mendung yang ditiup angin. Dia mendatangi suatu kaum, lalu dia mengajak kaum tersebut, kemudian mereka beriman kepadanya dan menerimanya. Lantas dia memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, maka langit pun menurunkan hujan. Dia memerintahkan bumi untuk mengeluarkan tanaman, lantas bumi pun menumbuhkan tanamannya, sehingga binatang-binatang ternak mereka kembali di penghujung siang dalam keadaan yang sangat baik, punuknya besar, serta gemuk dan kenyang. Kemudian dia mendatangi kaum lain, lalu dia mengajak kaum tersebut, dan ternyata kaum ini menolaknya (mereka masih teguh dengan ketauhidannya), lantas dia berpaling dari kaum tersebut, lantas mereka mengalami paceklik (tidak ada hujan turun di wilayah mereka dan rerumputan menjadi kering). Tidak ada harta apa pun di tangan mereka dan mereka berjalan melewati reruntuhan, kemudian Dajjal berkata pada reruntuhan tersebut, ‘Keluarkanlah harta pendamanmu,’ maka harta pendaman reruntuhan tersebut mengikutinya sebagaimana ratu lebah. Selanjutnya Dajjal memanggil seorang pemuda kekar, lalu dia membelahnya dengan pedang menjadi dua bagian yang terpisah jauh sejauh lemparan, kemudian dia memanggilnya lagi, lantas potongan tubuh itu menghadap dengan wajah yang berseri-seri sambil tertawa.
aDalam kondisi yang demikian, selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Isa Al-Masih bin Maryam ‘alaihissalam. Beliau turun di menara putih sebelah timur Damaskus, mengenakan dua pakaian yang diwarnai, seraya meletakkan kedua telapak tangannya pada sayap dua malaikat. Ketika beliau menundukkan kepalanya, keringat bercucuran bagaikan permata. Orang kafir tidak mungkin mencium nafasnya kecuali langsung mati. Nafas beliau sampai sejauh mata memandang. Kemudian Nabi Isa mencari Dajjal sehingga beliau menemukannya di Bab Lud (nama tempat Syiria) lalu nabi Isa membunuhnya. Selanjutnya Nabi Isa mendatangi kaum yang telah dilindungi oleh Allah dari Dajjal, lalu beliau mengusap wajah-wajah mereka, beliau menjelaskan kepada mereka derajat mereka di surga.
Dalam kondisi demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi wahyu kepada Nabi Isa ‘alaihissalam, ‘Sungguh, Aku telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku. Tidak ada seorang pun yang mempunyai kemampuan untuk memerangi mereka. Kumpulkanlah mereka ini ke bukit Tursina (Jadikanlah bukit Tursina sebagai benteng).’ Selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirim Ya’juj Ma’juj. Mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Orang pertama di antara mereka melewati danau Thabariyah, lalu mereka meminum airnya. Orang terakhir juga melewatinya, lalu mereka berkata, ‘Sungguh, tadi ada di danau ini banyak airnya.’ Nabi Isa ‘alaihissalam beserta sahabat-sahabatnya semakin kepepet, sehingga kepala sapi bagi salah seorang di antara mereka lebih baik dari pada seratu dinar bagi kalian semua hari ini (lantaran mereka sangat membutuhkan makanan), kemudian Nabi Isa beserta sahabat-sahabatnya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Mereka memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar gangguan Ya’juj Ma’juj segera dihilangkan), lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirim cacing di dalam hidung unta dan kambing pada leher-leher mereka. Lantas mereka pun mati sekaligus. Kemudian Nabi Isa ‘alaihissalam beserta sahabat-sahabatnya turun ke bumi. Ternyata mereka tidak menemukan tempat sejengkal pun di muka bumi kecuali dipenuhi oleh bau busuk. Lantas Nabi Isa beserta sahabat-sahabatnya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian Allah mengirimkan burung-burung semisal leher unta. Burung-burung itu membawa bangkai Ya’juj Ma’juj lalu dilemparkan sesuai kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan hujan yang tidak dapat ditahan oleh tanah keras dan gandum. Maka, bumi pun dicuci bersih sehingga seperti kaca. Kemudian dikatakan kepada bumi, ‘Tumbuhkanlah buah-buahmu dan kembalikanlah berkahmu.’ Pada hari itu sekelompok orang memakan delima dan mereka berteduh dengan kulitnya, air susu sangat diberkahi. Bahkan, seekor unta yang hampir melahirkan mencukupi untuk sekelompok orang banyak. Seekor sapi yang hampir melahirkan mencukupi untuk satu kabilah. Seekor kambing yanghampir melahirkan mencukupi satu suku. Dalam kondisi demikian, tiba-tiba Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan angin yang baik, lalu angin ini mengena mereka di bawah ketiak mereka, sehingga ruh setiap orang mukmin dan muslim dicabut. Yang masih tersisa tinggal orang-orang jahat. Orang-orang pun melakukan hubungan seks sebagaimana keledai (artinya, lelaki dan perempuan melakukan hubungan seks secara terang-terangan di hadapan banyak orang bagaikan keledai). Maka, dalam kondisi demikian datanglah hari kiamat.” (HR. Muslim)
Turunnya Nabi Isa bin Maryam ‘alaihissalam
Termasuk di antara tanda-tanda kiamat besar ialah turunnya al-Masih Nabi Isa bin Maryam‘alaihissalam. Alquran dan hadis-hadis telah menunjukkan hal ini. Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman:
Tidak ada seorang pun di antara ahli kitab yang tidak beriman kepadanya (Isa) menjelang kematiannya. Dan pada hari kiamat dia (Isa) akan menjadi saksi mereka.” (QS. An-Nisa: 159)
Artinya, tidak ada seorang pun dari ahli kitab melainkan akan beriman kepada Nabi Isa ‘alaihissalammenjelang kematiannya dan pada hari kiamat Nabi Isa ‘alaihissalam akan memberi kesaksian kepada mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Dan sungguh, dia (Isa) itu benar-benar menjadi pertanda akan datangnya hari kiamat. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu tentang (kiamat) itu dan ikutilah aku. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Az-Zukhruf: 61)
Sesungguhnya turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam merupakan tanda-tanda kiamat sudah dekat. Terdapat beberapa hadis mutawatir mengenai turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam. Sekarang ini Nabi Isa‘alaihissalam hidup di langit. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat ruhnya dan jasadnya kehadirat-Nya. Beliau akan turun ke bumi sebagai hakim yang adil yang menetapkan hukum berdasarkan syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Asy-Syaikhani meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang menguasai jiwaku. Sungguh, putra Maryam akan turun kepada kalian semua sebagai hakim yang adil. Lalu dia menghancurkan salib, membunuh babi, dan meniadakan pajak. Harta pun melimpah-limpah sehingga tidak ada seorang pun yang mau menerima (pemberian orang lain). Sehingga sujud sekali lebih baik dari pada dunia dan isinya.” Terdapat di dalam hadis-hadis shahih pula bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam adalah orang yang akan membunuh Dajjal. Dan setelah misi Nabi Isa bin Maryam ‘alaihissalam selesai, beliau meninggal dunia, lalu kaum muslimin menshalatinya dan dimakamkan di kamar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang suci.
Keluarnya Ya’juj Ma’juj
Ya’juj Ma’juj disebutkan di dalam Alquran Al-Karim di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Mereka berkata, ‘Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?’.” (QS. Al-Kahfi: 94)
Ya’juj Ma’juj merupakan kabilah dari keturunan Yafits bin Nuh. Mereka keluar di akhir zaman setelah dinding penghalang yang dibuat oleh Dzulqarnain jebol. Lantas mereka membuat kerusakan di muka bumi dengan berbagai macam tindakan keji dan kerusakan. Saking banyaknya, mereka memakan makanan dan tanaman apa saja yang dijumpainya dan meminum danau Thabariyah sampai seakan-akan tidak pernah ada airnya.
Keluarnya api yang menggiring manusia ke padang Mahsyar
Api ini keluar dari tanah ‘Adn, yaitu api besar yang menakutkan. Tidak ada sesuatu pun yang dapat memadamkannya. Api ini menggiring manusia ke padang Mahsyar. Demikianlah di antara tanda-tanda kiamat besar. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menyelamatkan kita dari api dunia dan akhirat dan semoga Dia menyelamatkan kita dari kengerian kiamat berkat anugerah-Nya dan kemuliaan-Nya. Sungguh, Dia Maha Mendengar dan Mahadekat.
Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Tanda-Tanda Hari Kiamat


tanda kiamat

Tanda tanda-tanda kiamat kecil dan besar                                                    Di antara tanda-tanda kiamat kecil ialah muncul banyak fitnah, banyak terjadi pembunuhan, perbuatan hina merajalela, perbuatan keji dan kemungkaran semisal zina, minum arak, perjudian, merasa bangga dengan perbuatan buruk dilakukan secara terang-terangan. Sehingga, orang yang berpegang teguh pada agamanya bagaikan orang yang menggenggam bara api.
Demikianlah pula termasuk di antara tanda-tanda kiamat kecil ialah dicabutnya ilmu, kebodohan nampak, kuantitas kaum perempuan banyak sekali, kaum laki-laki hanya sedikit, sutra banyak dipakai, banyak orang menjadi penyanyi, seseorang melewati kuburan orang lain, lalu dia berkata, “Seandainya saja aku berada di posisi dia.”
Termasuk di antara tanda-tanda kiamat kecil ialah muncul para dai yang menyesatkan, para pemimpin yang menyimpang, amanat disia-siakan dengan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya. Demikian pula minimnya kebaikan, jarang hujan, sering terjadi gampa, banjir, harga-harga barang melangit, kaum perempuan keluar dengan menanggalkan pakaian, berpakaian tapi telanjang.
Di samping itu, termasuk di antara tanda-tanda kiamat kecil ialah terjadinya peperangan yang menentukan antara kaum Yahudi dan kaum muslimin. Akhirnya kaum muslimin membunuh mereka sehingga orang-orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu pohon atau batu tersebut berbicara, “Wahai orang muslim, wahai hamba Allah! Ini orang Yahudi di belakang saya. Kemarilah, bunuh dia!” Kecuali pohon Gharqad, karena sesungguhnya pohon Gharqad termasuk pohon orang Yahudi.
Di samping itu, termasuk tanda-tanda kiamat kecil ialah waktu berjalan terasa cepat, sehingga setahun seakan-akan hanya sebulan, sebulan seakan-akan hanya satu jam, dan satu jam bagaikan bara api yang membakar.
Termasuk pula di antara tanda-tanda kiamat kecil ialah menyia-nyiakan shalat, menuruti hawa nafsu, Orang pendusta dibenarkan, dan orang yang jujur didustakan, orang yang berkhianat dianggap dapat dipercaya, orang yang dapat dipercaya dianggap berkhianat. Alquran menjadi lenyap. Yang tersisa hanyalah tulisannya, mushaf-mushaf dihias dengan emas, kaum perempuan jadi pembicara, dan masjid-masjid juga dihias.